Meski wilayah desa umumnya memiliki lahan luas, pekarangan rumah warga tidak selalu demikian. Di permukiman padat desa, banyak rumah memiliki halaman sempit, sementara lahan datar yang tersedia lebih diprioritaskan untuk pertanian produktif. Kondisi ini membuat ruang penghijauan rumah menjadi terbatas, padahal penghijauan penting untuk menurunkan suhu, memperbaiki kualitas udara, dan mempercantik lingkungan.
Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mataram Tahun 2026 yang ditempatkan di Desa Mendana Raya mengadakan sosialisasi vertical garden kepada warga setempat. Vertical garden memanfaatkan bidang vertikal seperti dinding atau pagar sehingga tidak memerlukan lahan luas, dan dapat dibuat dengan biaya terjangkau menggunakan material lokal maupun barang bekas seperti botol plastik, bambu, atau ban bekas. Selain mempercantik rumah, metode ini juga dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran atau Tanaman Obat Keluarga (TOGA) guna mendukung ketahanan pangan keluarga.
Penerapannya di desa masih menghadapi kendala seperti keterbatasan air bersih, minimnya pengetahuan teknis warga, dan belum terbiasanya masyarakat dengan konsep penghijauan non-konvensional ini. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan pendampingan agar vertical garden dapat diterapkan secara luas di lingkungan rumah warga.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan efisiensi pemanfaatan pekarangan sempit menjadi ruang tanam yang produktif, mendorong penghijauan dan perbaikan kualitas lingkungan, serta mengurangi panas pada bangunan dengan memanfaatkan tanaman sebagai pelindung alami. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan estetika rumah, mendukung ketahanan pangan skala rumah tangga, mengurangi sampah rumah tangga melalui pemanfaatan barang bekas, serta menumbuhkan edukasi dan kesadaran lingkungan bagi warga.
Dari segi lingkungan, vertical garden membuat udara lebih sejuk melalui proses evapotranspirasi, menyerap karbon dioksida (CO₂) dan menghasilkan oksigen (O₂), serta membantu menjaga kelembapan udara dan meredam kebisingan. Bagi bangunan rumah, tanaman berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari sehingga dinding tidak cepat panas, suhu ruangan lebih sejuk, penggunaan listrik lebih hemat, dan dinding menjadi lebih awet.
Dari sisi ekonomi, vertical garden dapat dibuat dengan biaya terjangkau menggunakan barang bekas, sementara hasil tanam seperti sayuran dapat menghemat pengeluaran dapur bahkan menjadi tambahan penghasilan. Secara sosial, kegiatan ini menumbuhkan kepedulian lingkungan, menjadi sarana edukasi bagi anak-anak, serta mempererat hubungan antarwarga melalui gotong royong.
Dari segi keindahan, tanaman hijau membuat rumah tampak lebih asri dan membantu menenangkan pikiran. Sementara itu, pemanfaatan botol atau wadah bekas sebagai pot tanaman turut mengurangi sampah plastik rumah tangga sekaligus menerapkan prinsip reuse.
Sebagai penutup kegiatan, mahasiswa KKN mengadakan demonstrasi pembuatan vertical garden sederhana menggunakan barang bekas seperti botol plastik, bambu, dan pipa paralon. Tahapan yang dilakukan meliputi pemotongan dan pelubangan media tanam, penyusunan media pada bidang vertikal, pengisian tanah, hingga penanaman bibit sayuran dan TOGA. Warga menunjukkan antusiasme tinggi, terlihat dari berbagai pertanyaan seputar teknik perawatan tanaman dan cara mengatasi keterbatasan air pada musim kemarau.
Selain sosialisasi dan demonstrasi, mahasiswa KKN juga membagikan bibit tanaman sayuran dan TOGA kepada warga sebagai bentuk aksi nyata penghijauan. Bibit tersebut dapat langsung dimanfaatkan untuk mengisi media vertical garden maupun ditanam di pekarangan rumah, sehingga warga dapat segera menerapkan ilmu yang diperoleh tanpa perlu biaya tambahan.
Melalui rangkaian kegiatan sosialisasi, demonstrasi, dan pembagian bibit ini, mahasiswa KKN Universitas Mataram Tahun 2026 berharap warga Desa Mendana Raya dapat menerapkan vertical garden secara mandiri dan berkelanjutan, sehingga mampu mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus mewujudkan desa yang lebih hijau dan berkelanjutan.